Sejarah Kebudayaan Islam di Indonesia dan Peninggalannya - Pijar Article
Paket Belajar
Blog
Tes Minat Bakat
Info Lainnya
Masuk

Share :

link iconwa iconfb icontwitter icon

Sejarah Kebudayaan Islam di Indonesia dan Peninggalannya

| 0 minute read
Sejarah Kebudayaan Islam di Indonesia dan Peninggalannya image

Kalau kamu perhatikan, ada banyak sekali kebudayaan islam yang diadaptasi budaya Indonesia, lho, mulai dari bahasa, lagu, hingga tulisan dan bangunan. Pencampuran kebudayaan tersebut disebabkan oleh adanya sejarah kebudayaan islam di Indonesia.


Seperti yang kita tahu, dulunya ada banyak sekali kerajaan islam yang berdiri di Indonesia. Tapi, bagaimana ya awal mula munculnya kebudayaan islam di Indonesia? Biar Sobat Pijar nggak penasaran lagi, yuk kita bahas bersama-sama mengenai sejarah kebudayaan islam berikut ini.


Baca juga: Kerajaan Hindu: Awal Mula dan Kerajaan-Kerajaan Hindu di Indonesia


Teori Masuknya Kebudayaan Islam di Indonesia

Seperti yang sebelumnya sudah dijelaskan, di Indonesia pernah berdiri berbagai macam kerajaan islam. Nama-nama kerajaan islam di Indonesia sendiri sudah pernah Pijar Belajar bahas dalam Blog Pijar Belajar. Supaya informasimu semakin bertambah, coba baca artikel tersebut, yuk.


Nah, terdapat beberapa pendapat tentang proses atau awal mula terbentuknya kerajaan bercorak Islam di Indonesia. Tentunya sejarah kebudayaan islam diawali dengan masuknya Islam ke Nusantara. Terdapat 4 teori masuknya kerajaan islam di Indonesia yang perlu kamu tahu.


1. Teori Gujarat

Mereka berpendapat bahwa Islam yang memasuki wilayah Nusantara berasal dari Gujarat. Pendapat ini mempunyai asumsi bahwa Gujarat yang terletak di bagian barat India dekat dengan laut Arab. Letak ini sangat strategis, ada di jalur perdagangan antara wilayah barat dan wilayah timur.


Menurut Pijnapel, orang yang menyebarkan agama Islam ke Nusantara bukan orang Arab, tetapi pedagang dari Gujarat yang sebelumnya sudah memeluk agama Islam. Mereka memulai perdagangan ke dunia timur.


Pendapat ini didukung oleh C. Snouck Hurgronje dan J. P. Moquetta. Pendapat tentang sejarah Kerajaan Islam di Indonesia ini dikuatkan pula oleh keberadaan batu nisan Sultan Malik Al Saleh yang wafat pada tahun 1297 di Pasai, Aceh.


Menurutnya, batu nisan tersebut mempunyai bentuk yang sama dengan batu nisan makam Maulana Malik Ibrahim, yang wafat pada tahun 1419 di Gresik dan batu nisan di Kambay, Gujarat.


Moquetta lalu menyimpulkan bahwa batu nisan itu diimpor langsung dari Gujarat, atau dibuat oleh orang Gujarat atau orang Indonesia yang sebelumnya belajar kaligrafi khas Gujarat.


2. Teori Persia

Hoesein Djajadiningrat menyatakan bahwa Islam yang masuk ke Nusantara berasal dari Persia, atau sekarang adalah negara Iran. Pendapat ini didukung oleh adanya persamaan tradisi dan budaya yang berkembang di antara masyarakat Indonesia dan Parsi.


Tradisi yang dimaksud adalah merayakan Asyuro atau 10 Muharram. Perayaan ini dianggap sebagai hari suci kaum Syiah atas kematian Husein bin Ali. Perkembangan ini juga terjadi dalam bentuk tradisi Tabot di Bengkulu dan Pariaman Sumatera Barat.


3. Teori Mekah

Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau Buya Hamka berpendapat bahwa Islam berasal dari tempat kelahirannya, yaitu Mesir atau Arab. Masuknya Islam ke Nusantara berlangsung pada abad ke-7 atau abad pertama tahun Hijriyah.


Anthony H. Johns juga menyatakan bahwa Islam berasal dari Mekkah. Islamisasi  dan kerajaan Islam ada di Indonesia karena saat itu kaum pengembara atau musafir mendatangi Nusantara.


Mereka memang terbiasa mengembara dari satu tempat ke tempat lain dengan motivasi untuk mengembangkan agama Islam.


Peninggalan Sejarah Kerajaan Islam di Indonesia

Proses akulturasi antara kebudayaan sebelum dan sesudah agama Islam masuk ke Nusantara menghasilkan peninggalan-peninggalan berbentuk fisik dan seni juga karya sastra. Beberapa peninggalan dari kerajaan bercorak Islam di Nusantara adalah sebagai berikut.


1. Masjid dan Menara

Masjid kuno di Indonesia mempunyai ciri khas tertentu yang bisa kamu simak seperti penjelasan di bawah ini.


  • Atapnya tumpang atau bersusun, di mana ukurannya semakin kecil di bagian atasnya, dengan puncak berbentuk limas. Jumlah tumpang biasanya ganjil. Ada juga tumpang dua yang disebut meru.
  • Tidak mempunyai menara sebagai tempat mengumandangkan adzan saat itu. Waktu salat ditandai dengan memukul kentongan atau bedug.
  • Masjid biasanya didirikan di dekat istana kerajaan atau di ibukota. Ada pula masjid yang dikeramatkan dan dibangun di dekat makam atau di atas bukit.


2. Makam

Bentuk peninggalan Kerajaan Islam berikutnya adalah makam. Makam yang ada di tempat tinggi atau di atas bukit menunjukkan pengaruh tradisi tentang kepercayaan terhadap roh nenek moyang yang sudah dimulai sejak masa Megalitikum.


3. Seni Ukir

Seni ukir, melukis makhluk hidup, dan patung tidak diperbolehkan pada masa perkembangan Islam di zaman Madya. Karena itulah, seni patung di Nusantara saat itu kurang berkembang. Tetapi, sesudah zaman Madya, seni patung kembali berkembang.


Para seniman mengembangkan seni ukir dan hiasan dengan motif bunga dan dedaunan. Mereka juga menciptakan seni hias dengan huruf Arab atau kaligrafi.


4. Seni Sastra dan Aksara

Penyebaran Islam di Nusantara mempengaruhi perkembangan di bidang tulisan atau aksara. Saat itu, masyarakat sudah menggunakan huruf Arab atau abjad untuk menulis. Huruf Arab juga dipakai dalam seni ukir.


Di samping itu, ada beberapa seni sastra yang terkenal pada masa penyebaran agama Islam di Nusantara.


  • Hikayat adalah cerita tentang sejarah atau dongeng. Hikayat sering bercerita tentang kejadian yang menarik, ajaib, dan kadang-kadang tidak masuk akal.
  • Babad sedikit mirip dengan hikayat. Babad ditulis seperti catatan sejarah, namun tidak selalu berdasarkan fakta. Bisa dibilang kalau babad berisi tentang campuran mitos, fakta-fakta sejarah, dan kepercayaan.
  • Syair adalah karya sastra berbentuk sajak. Satu baitnya terdiri dari empat baris.
  • Suluk adalah sastra berbentuk kitab yang menjelaskan soal-soal tasawuf.


5. Kesenian

Penyebaran agama Islam saat itu juga menghasilkan beberapa kesenian, di antaranya adalah:


  • Permainan debus atau tarian di mana penari menusukkan benda tajam ke tubuhnya tanpa menghasilkan luka. Tarian ini dimulai dengan pembacaan ayat-ayat Al-Quran dan Shalawat Nabi.
  • Seudati adalah tarian dari Aceh. Seudati artinya adalah permainan orang besar yang juga sering disebut dengan Saman atau delapan. Tarian ini sebenarnya terdiri dari delapan penari, dan mereka akan menyanyikan lagu Shalawat Nabi.
  • Wayang atau pertunjukan wayang kulit sudah dimulai sejak masa penyebaran agama Hindu, tapi masih terus berkembang pada masa penyebaran agama Islam.


6. Kalender

Pada tahun ke tiga pemerintahan Khalifah Umar Bin Khattab, beliau mencoba untuk membenahi kalender Islam. Hitungan tahun didasarkan pada peredaran bulan. Umar menetapkan bahwa tahun 1 Hijriyah jatuh pada tanggal 14 September 622 M.


Sistem kalender inilah yang kamu kenal sebagai Penanggalan Hijriyah. Sistem kalender ini juga berkembang di Nusantara, dibuktikan dari sistem kalender dari Sultan Agung. Ia mengubah nama-nama bulan di tahun Saka. Kalender ini dimulai pada tanggal 1 Muharram 1043 Hijriyah.


Baca juga: Hal-Hal yang Perlu Kamu Tahu Tentang Pertempuran Ambarawa


___________________________________________________________


Bukti peninggalan sejarah Kerajaan Islam bisa ditemukan di banyak tempat karena perkembangannya yang pesat. Mungkin ada peninggalan sejarah dari kerajaan-kerajaan di atas di dekat tempat tinggal Sobat Belajar?


Kalau Sobat Pijar ingin mengasah lebih tajam pemahaman soal sejarah Indonesia, kamu bisa banget menjadikan Pijar Belajar sebagai teman belajarmu, lho. Bersama Pijar Belajar, pengalaman belajarmu pasti jadi lebih menyenangkan. Mau latihan soal? Ada. Mau video pembahasannya? Pasti ada juga, dong!


Tunggu apa lagi? Yuk download Pijar Belajar sekarang!

Artikel Lainnya

 image

 image

 image

 image